Siapa si-Jefry?
Bagian-1 (lahir – TK)
Anak ke-2 sekaligus terakhir yang lahir pada hari sabtu 9 november 199* malam menjelang pagi, dilahirkan normal selayaknya bayi baru lahir pada umumnya. Dia tumbuh dari keluarga yang tidak miskin tapi juga tidak kaya, hanya cukup untuk makan sehari-hari, bapak seorang buruh panggul (di pasar) dan ibuk hanyalah ibu rumahtangga yang mencoba peruntungan dengan menjual gorengan, buruh pritil berambang (membersihkan bawang merah dari pasca panen sampai siap jual di pasaran), kerja mulai dari muncul hingga terbitnya sang Fajar, hanya untuk mencari sesuap nasi dan merubah nasib agar lebih baik lagi, seiring berjalannya waktu si-Jefry pun tumbuh dan mulai mengerti apa itu sekolah. Dalam benaknya sekolah adalah tempat orang bermain dan membeli jajanan khas sekolahan yang biasa di beli dan dibawa pulang kakaknya sewaktu pulang dari sekolah, masuklah si-Jefry ke sebuah TK di dusunnya, dengan hati riang gembira dia berangkat diantar ibunya, namun sesampainya disekolah ekspetasi tentang sekolah yang ia bayangkan sirnah sudah ketika sang memberi tugas untuk menulis (yang kini dikenal sebagai huruf abjad) dan mengarsir buku gambar hitam putih dengan beberapa pensil warna, didampingi ibunya si-Jefry pun mencoba menulis dan memberi warna pada kertas hitam putih berpola itu, dengan kaku dia mulai menggerakkan tangannya mengikuti arahan dari sang ibu yang sabar menuntun anaknya agar bisa menulis tulisan yang ada di depan (papan tulis hitam) yang dicontohkan oleh sang guru, dengan susah payah si-Jefry mengikuti arahan dari ibunya.
Saat yang ditunggu pun tiba, bel sekolah berbunyi tanda kelas telah usai,
semua anak seisi ruangan termsuk si-Jefry pun bersorak sorai gembira mendengar bel tanda pelajaran usai, dalam hati dia berkata "inilah saat yang aku tunggu-tunggu" yah, saat seperti itulah semua siswa di TK diperbolehkan untuk membeli jajanan yg dijajahkan para penjual mulai dari makanan-mainan semua ada, dengan wajah ceria si-Jefry pun menghampiri penjual mainan dan hendak mengabil satu, namun sang ibu menahanya karena harga mainan terlalu mahal dan sang ibu berkata "belilah sesuatu yang bisa kau makan", dengan berat hati si-Jefry pun meninggalkan lapak si-penjual mainan, dan beralih di pejual makanan ringan yang biasa disebut cilok. Bel sekolah kembali berbunyi tanda waktu bermain selesai dan waktunya untuk kembali ke dalam kelas melanjutkan belajar tulis-menulis, belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru bel sekolah kembali berbunyi tanda pelajaran telah usai dan waktunya untuk pulang, persis saat bel pertama berbunyi seisi ruangan pun bersorak sorai gembira mendengernya. Beberapa bulan terlewati si-Jefry pun mulai punya teman dan berani berangkat ke TK dengan teman-temannya tanpa diantar lagi oleh sang ibu yang memang sibuk menjual beberapa jenis gorengan di rumah, namun berangkat dan pulang sendiri membuat si-Jefry terlibat perkelahian dengan salah satu temannya sampai kepala si teman Jefry ini berdarah akibat hantaman tas sekolah berroda Jefry yg mendarat di kepala temannya, saat itu juga si-Jefry mendapat cubit dan peringatan keras dari guru-guru TKnya, setelah kejadian itu si-Jefry pun menjadi sangat menurut. 1 tahun si-Jefry melewati masa TK dengan berat karena di TK tidak sesuai ekpetasi yang digambarkan sewaktu dia memaksa sang ibu untuk mendaftarkannya masuk di TK karena melihat sang kakak selalu riang gembira dan membawa cilok ke rumah sepulang sekolah.

Comments

Popular Posts