BELUM ADA JUDUL
Sebuah penjelasan yang akhir-ini
menggelitik akal dan hati nurani menyatakan bahwasanya manusia diperintahkan
bertafakur, berpikir, dan menghayati ciptaan dan kekuasaan-Nya. Lalu siapa yang
hatinya tersinari dengan matahari dari pagi hingga sore hari? Lalu siapa yang
merasa tenang dengan bulan dan bintang yang menemani tidurnya? Lalu siapa yang
tersegarkan hujan di tengah gersangnya hidup? Adakah mereka memberi arti dalam
hidup? Atau begitu butakah manusia hingga tidak mampu melihat ayat-Nya yang
sangat nyata memberi jawaban dari doa-doa? Lalu mengapa begitu keras akal
memikirkan-Nya, bukan kebesaran-Nya, hingga membatu hati melantangkan
suara-suara hujatan?
Matahari masih setia menyapa pada
pagi, memeluk dalam siangnya, hingga mengecup manusia saat sorenya. Dia tidak
memilih-milih pada siapa ia bersinar. Apakah itu gunung, laut, gedung-gedung
kota, si kaya atau miskin, bayi, anak-anak, ibu, maupun kakek dengan gratis
dapat menikmati sinarnya. Kadang ia (matahari) disanjung pada pagi yang seakan
menjadi awal semangat baru manusia. Memberi harapan baru dalam hidup yang tak
pernah usai dalam masalah. Kadang ia pun menjadi begitu pemarah saat sinar
panasnya membakar tubuh hingga kesensitifan manusia di siang hari. Atau sebagai
awal yang tenang menjelang malam saat kerelaannya pada bulan. Lalu berapakah
manusia yang harus tertunduk hanya pada majikan, berbuat baik hanya pada dia
yang berbuat baik padanya. Menyulut bara-bara dendam dalam hidupnya hingga
menjadikan kepentingannya adalah segalanya. Sebelah matakah itu manusia untuk
hanya menyadari matahari?
Hujan-hujan menjadi sahabat hidup
siapapun dan apapun yang tumbuh. Hadirnya adalah anugerah indah seusai kemarau
panjang melanda. Anak-anak tertawa bermain di sungai atau hanya merasakan
gemricik air yang turun dari genteng rumah ayahnya. Pelangi indah turut
melengkapi peristiwa musim hujan kala itu. Kemudian manusia menyalahkannya
(hujan) karena dianggap penyebab banjir dan musim longsor. Kedatangannya adalah
kendala untuk berkativitas mengisi hari-hari yang membosankan. Lalu seberapa
berartikah hujan dalam hidup manusia hingga ia tersiksa dahaga dalam hatinya.
Mengusir kedinginan hati karena panasnya nafsu menuruti kerasnya zaman.
Laut selalu menjadi primadona
dalam kehidupan manusia. Pantainya adalah tempat terasyik untuk berkumpul dan
bercanda dengan teman atau sanak famili. Ikannya tak pernah habis menjadi
gizi-gizi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Mutiaranya adalah terbaik untuk
perhiasan wanita juga mas kawin. Terumbu karangnya memanjakan mata siapapun
yang mencoba bercengkrama dengan ikan-ikan kecil nan elok warnanya. Punggungnya
adalah jalur perlintasan wisata dan perdagangan manusia. Lalu pernahkan dia
marah saat limbah manusia mencampuri kejernihannya. Tubuhnya dibom
nelayan-nelayan rakus. Dimanakah rasa terima kasih manusia atau balas budi
manusia saat laut memberi badai? Yang ada hanyalah rasa kesal karena dianggap
laut sangat menakutkan.
Buku-buku tidak lebih hanya
menjadi penjara bagi pikiran manusia. Semakin banyak membaca maka sempitlah
pikirannya, picik matanya memandang sekitarnya yang dianggap tidak
berkontribusi dalam hidupnya. Menutup mata dan telinga pada siapapun yang
berbeda dengannya. Bukankah keindahan pelangi terletak pada warna-warninya?
Cermah-ceramah menjadi ajang
menjual dalil-dalil yang tidak lebih dari dalih. Kebenaran pribadi yang
disodorkan adalah mutlak bagi telinga-telinga rakyat biasa. Masyarakat yang
belum tahu apa-apa dibuatnya kaku dan beku dengan pemahaman-pemahaman si
penceramah.
Yogyakarta, 30 Oktober 2017.
M. Ulin Nuha
Comments
Post a Comment