Review Film EXAM
Review Film EXAM
Di sini saya
akan mencoba mereview film yang berjudul EXAM. Saya sangat tertarik dengan 2
hal yang bersangkutan dengan film ini. Pertama Judulnya yang simpel dan yang
kedua adalah membaca sinopsisnya yang menarik. Exam bercerita tentang 8 orang
yang berasal dari kalangan yang berbeda, dengan masing-masing memiliki cara
berfikir dan skill yang berbeda-beda. Begitu juga dengan ras yang berbeda-beda
pula. 8 orang terpilih ini adalah orang-orang yang berhasil melewati rangkaian
tes dan harus mengikuti tes akhir untuk masuk sebuah perusahaan. Tes akhirnya
adalah menyelesaikan soal dalam 80 menit dengan beberapa aturan yang mungkin
sulit untuk dipahami bagi orang awam seperti saya. Dan kedelapan orang tersebut
terkejut ketika membalik kertas ujiannya, yang tak lain hanyalah lembaran
kosong jika dilihat menggunakan mata telanjang. Menurut saya film ini menarik
dengan caranya sendiri. Mengapa? Karena exam hanya menggunakan satu set ruangan
persegi panjang untuk membuat film berdurasi 98 menit ini. Memang cukup lama
karena 80 menit yang digunakan untuk ujian seperti sedang kita alami juga. 5
menit didepan untuk penjelasan, dan 10–15 menit terakhir untuk konklusi.
Meskipun begitu, alurnya tidak terasa lama. 98 menit yang berjalan terasa cukup
cepat karena dibalut dengan adegan-adegan yang serasa berjalan begitu cepat,
obrolan-obrolan yang smart, dan fakta-fakta menarik tentang hal yang tidak
penting. Tapi entah kenapa sangat menarik untuk disimak.
Exam menggunakan 8 karakter
peserta tes. Empat pria yaitu Luke Mably (White), Chukwudi Iwuji (Black), Jimi
Mistry (Brown), dan John Lloyd Filingham (Deaf), lalu empat wanita, Adar Beck (Dark),
Nathalie cox (Blonde), Pollyanna McIntosh (Brunette), dan Gemma Chan (Chinese
girl). Diluar itu hanya karakter Invigilator (Colin Salmon) dan Guard (Chris
Carey). Pengembangan karakternya tidak berkembang terlalu banyak, dikarenakan
banyaknya karakter yang menjadi fokus utama, menjadikan kita sulit untuk
menebak-nebak akhir ceritanya seperti apa. Yang jelas adalah White yang berisik,
Black yang plin-plan, Brown yang cool dan secretive, Deaf yang autis, dan Dark
yang serba-tahu. Selain kelima orang diatas, Brunette dan Blonde juga memiliki
perkembangan karakter sedikit meskipun tidak banyak. Hebatnya, film ini sama
sekali tidak menggunakan artis super terkenal untuk menjualnya, hanya sebuah
cerita yang cukup kompleks. Plot cerita yang simpel diputar di banyak titik
cerita. Sejak awal untuk meretas konflik awal menggunakan twist yang cukup
membuat saya tertarik untuk tetap menonton film ini sampai habis. Twist-twist
yang keluar sangat powerful untuk bikin kaget. Genre-nya thriller. Tapi saya
sendiri ngga merasa thrilled banget. Tapi memang bukan film action apalagi
drama.
Di film ini, Black, Dark, dan
beberapa orang lainnya menggunakan ilmu pengetahuan yang mereka tahu, baik umum
maupun spesialisasi dalam Kehidupan mereka sehari-hari, dimana hal tersebut
sedikit menyadarkan saya bahwa mengerti secara bener apa yang anda pelajari itu
memang ada pentingnya. Dikemas dengan bahasa yang gampang dimengerti, jadinya
ya cukup jelas dan informasinya dapet dicerna dengan baik. Adegan favorit saya
di film ini ada banyak. Pertama ekspresi semua orang ketika tahu kondisi kertas
tesnya, lalu adegan penemuan lampu, penemuan mati-nyala-nya lampu, dan adegan
tembak-menembak. Yang paling favorit di endingnya sebenarnya. Yang sangat
mengagetkan dan saya tidak pernah menyangka endingnya seperti itu. Pertama
bahwa yang berhasil lolos adalah si blonde yang notabene di keseluruhan film
dia tidak banyak mengeluarkan argumen, dan yang mengejutkan lagi adalah ketika
mengetahui bahwa si deaf adalah pemilik perusahaan tersebut. Namun, tiada
gading yang tak retak. Dunia yang sedang diciptakan dalam film ini kurang kuat,
mungkin karena memang hanya berfokus pada satu ruangan saja. Sehingga beberapa
opini atau fakta dalam film yang ada terkesan dipaksakan. Lalu, dominasi adegan
sering terjadi disini. Ketika White bercuap-cuap terus, ketika Brown menguasai
kondisi, selalu saja berfokus hanya kesana, tidak memperlihatkan seperti apa
kondisi yang lainnya. Deaf yang memegang peranan cukup penting hanya
diperlihatkan sedikit-sedikit saja di sela-sela film.
Comments
Post a Comment